Minum Dalam Jumlah Banyak Terkait dengan Risiko Kanker Kolorektal yang Jauh Lebih Tinggi

0
23

Sebuah studi baru menegaskan hubungan kuat antara konsumsi alkohol dalam jumlah besar dan jangka panjang dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, terutama di rektum. Para peneliti menemukan bahwa individu yang secara konsisten meminum lebih dari 14 minuman beralkohol per minggu – kira-kira dua gelas atau lebih setiap hari – menghadapi 25% risiko keseluruhan lebih tinggi terkena kanker kolorektal dan 95% risiko lebih tinggi terkena kanker rektum dibandingkan dengan peminum alkohol dalam jumlah sedang.

Dampak Konsumsi Alkohol Seumur Hidup

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Cancer ini memperkuat pemahaman bahwa efek berbahaya alkohol terakumulasi seiring berjalannya waktu. Meskipun peminum berat yang berhenti atau mengurangi asupannya secara drastis dapat menurunkan risikonya, penelitian ini menggarisbawahi bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah besar secara konsisten merupakan faktor risiko kanker yang bermakna dan dapat dicegah.

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 88.000 orang dewasa selama periode 20 tahun, mengkategorikan peserta menjadi peminum ringan (di bawah 7 minuman per minggu untuk wanita, di bawah 14 tahun untuk pria), sedang (7–14/14–21 minuman), dan peminum berat (lebih dari 14/21 minuman). Hampir 1.700 peserta menderita kanker kolorektal selama penelitian, dengan jumlah peminum berat yang terwakili secara tidak proporsional.

Bagaimana Alkohol Berkontribusi pada Perkembangan Kanker

Tubuh memecah alkohol menjadi asetaldehida, bahan kimia beracun yang terkait dengan kerusakan DNA dan protein, sehingga meningkatkan risiko kanker. National Cancer Institute juga mencatat bahwa asupan alkohol berlebihan dapat mengganggu penyerapan nutrisi penting – termasuk vitamin A, B, C, D, dan E, serta karotenoid – yang dapat membantu menangkal kanker.

Berhenti atau Mengurangi Bisa Membuat Perbedaan

Studi ini memberikan kesimpulan yang jelas: berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol secara signifikan dapat menurunkan risiko kanker ke tingkat yang sebanding dengan peminum ringan. Mantan peminum berat melihat peluang mereka terkena tumor kolorektal non-kanker, yang bisa menjadi kanker, berkurang sebesar 42% dibandingkan dengan peminum ringan saat ini.

Pentingnya Deteksi dan Skrining Dini

Kanker kolorektal adalah penyebab kematian akibat kanker nomor dua di Amerika Serikat. Deteksi dini melalui skrining secara dramatis meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Gejala utamanya meliputi perubahan kebiasaan buang air besar, pendarahan dubur, rasa tidak nyaman di perut yang terus-menerus, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Satuan Tugas Layanan Pencegahan AS merekomendasikan agar orang dewasa dengan risiko rata-rata mulai melakukan skrining pada usia 45 tahun.

Meningkatnya Angka Kematian Anak di Kalangan Dewasa Muda

Angka kejadian kanker kolorektal menurun pada orang lanjut usia namun meningkat pada orang berusia di bawah 50 tahun, meskipun populasi ini umumnya mengonsumsi lebih sedikit alkohol dibandingkan masa lalu. Para peneliti mengakui bahwa alkohol bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong tren ini, dan penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab lain yang berkontribusi.

Pada akhirnya, penelitian ini memperkuat bahwa meminimalkan asupan alkohol bermanfaat, terutama dalam jangka panjang. Selalu mengikuti perkembangan skrining kanker kolorektal tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah kanker dan mendeteksi masalah sejak dini.


Sumber Editorial:

O’Connell C dkk. Asosiasi Asupan Alkohol Seumur Hidup dengan Adenoma Kolorektal dan Risiko Kanker Kolorektal dalam Uji Coba Skrining Kanker Prostat, Paru-Paru, Kolorektal, dan Ovarium. Kanker. 26 Januari 2026.

Alkohol dan Risiko Kanker. Institut Kanker Nasional. 2 Mei 2025.