Puasa Tinggi Protein Mengungguli Diet Tradisional untuk Menurunkan Berat Badan, Studi Menunjukkan

0
2

Penelitian baru menegaskan dugaan banyak pelaku diet: tidak semua rencana penurunan berat badan diciptakan sama. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Obesity Journal menunjukkan bahwa menggabungkan asupan protein tinggi dengan puasa intermiten memberikan hasil yang lebih unggul dibandingkan dengan pola makan konvensional yang menyehatkan jantung. Temuan ini penting karena menawarkan pendekatan yang jelas dan berbasis bukti bagi orang-orang yang berjuang untuk menurunkan berat badan meski tetap menjalankan pola makan yang tampaknya masuk akal.

Detail dan Temuan Studi

Penelitian ini mengikuti 39 partisipan yang kelebihan berat badan atau obesitas dengan gaya hidup yang kurang gerak hingga sedikit aktif. Semua peserta mengonsumsi total kalori yang kurang lebih sama, namun dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengikuti pola makan yang menyehatkan jantung, terdiri dari 50–60% karbohidrat, kurang dari 30% lemak, dan 10–20% protein (sekitar 1.200–1.500 kalori per hari). Kelompok kedua menerapkan pendekatan puasa intermiten berprotein tinggi: sekitar 35% protein, 30% lemak, 35% karbohidrat, dengan asupan kalori sedang (1.450–1.800 kalori hampir setiap hari) diselingi dengan satu hingga dua puasa sangat rendah kalori per minggu.

Hasilnya sangat mengejutkan : kelompok yang mengonsumsi protein tinggi kehilangan rata-rata 18 pon dalam delapan minggu, sedangkan kelompok yang memiliki jantung sehat rata-rata kehilangan 11 pon. Selain itu, kelompok berprotein tinggi menghilangkan hampir dua kali lipat lemak tubuh dibandingkan kelompok lainnya. Tekanan darah meningkat pada kedua kelompok, menunjukkan bahwa pendekatan mana pun dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung.

Mengapa Protein Tinggi Berhasil

Studi ini memperkuat ilmu pengetahuan tentang metabolisme protein. Mencerna protein membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan memproses karbohidrat atau lemak —sebuah fenomena yang dikenal sebagai efek termal makanan. Ini berarti tubuh Anda membakar lebih banyak kalori hanya untuk memecah makanan kaya protein.

Dikombinasikan dengan puasa intermiten, asupan protein tinggi juga membantu menjaga massa otot selama penurunan berat badan. Jaringan otot aktif secara metabolik, artinya membakar kalori saat istirahat. Dengan meminimalkan kehilangan otot, diet tinggi protein memaksimalkan efisiensi metabolisme jangka panjang.

Implikasi dan Pertimbangan Praktis

Temuan ini tidak membatalkan pola makan yang menyehatkan jantung. Mereka hanya menunjukkan bahwa manipulasi protein strategis dapat mempercepat hilangnya lemak. Jika Anda kesulitan menurunkan berat badan, meningkatkan asupan protein sambil melakukan puasa intermiten (di bawah pengawasan medis yang aman) mungkin lebih efektif daripada mempertahankan pola makan standar yang dibatasi kalori.

Suplemen dan makanan utuh sama-sama berperan. Bubuk protein (whey, kasein, kedelai, dll.) dapat melengkapi pola makan makanan utuh untuk mencapai sasaran protein harian. Kacang-kacangan dan selai kacang juga memberikan tambahan protein yang nyaman di samping lemak dan serat yang sehat. Bubuk kolagen dapat dianggap sebagai suplemen pendukung kesehatan sendi dan kulit.

Kesimpulannya, meskipun kedua pola makan tersebut menyebabkan penurunan berat badan, penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa puasa intermiten tinggi protein adalah strategi yang lebih ampuh untuk menurunkan berat badan dan mengurangi lemak tubuh. Kesimpulan utamanya: prioritaskan protein untuk memaksimalkan efisiensi metabolisme.