Ahli Bedah Yang Mengubah Cara Kita Melihat Operasi Perut

0
13

Berkeley Moynihan tidak mulai menjadi legenda di bidang bedah. Lahir di Malta pada tahun 1865, pria yang kemudian menjadi Baron Moynihan pertama ini awalnya ingin berkarir di militer. Dia berputar. Dia memilih obat sebagai gantinya.

Jalannya membawanya melewati Leeds Medical School dan Universitas London. Pada tahun 1890, dia mendapatkan beasiswa di Royal College of Surgeons. Ini hanyalah permulaan. Dia mengambil pekerjaan mengajar anatomi di Leeds. Dia segera menjadi profesor bedah. Dia juga bekerja sebagai ahli bedah di Rumah Sakit Umum Leeds.

Reputasinya tumbuh pesat. Itu bukan hanya pengakuan lokal. Siswa datang dari seluruh dunia untuk belajar di bawah bimbingannya. Mereka ingin mempelajari metodenya. Mereka ingin memahami pendekatannya terhadap tubuh.

Pelopor Bedah Perut

Moynihan menjadi salah satu pakar bedah perut yang paling diakui pada masanya. Dia tidak hanya melakukan prosedur. Dia menulis tentang mereka. Dia mendokumentasikannya. Monografnya menjadi bacaan standar bagi para dokter.

Pada tahun 1901, ia menerbitkan sebuah karya tentang pengobatan bedah penyakit perut. Dua tahun kemudian, dia merilis sebuah teks tentang pankreas. Ia melanjutkannya dengan penelitian tentang tukak lambung dan duodenum pada tahun 1903. Kemudian muncul penelitiannya tentang batu empedu pada tahun 1904.

Tapi satu buku berdiri di atas yang lain. Operasi Perut hadir pada tahun 1905. Ini menguraikan doktrin bedahnya dengan jelas. Teks tersebut tetap menjadi referensi standar selama dua puluh tahun. Itu adalah waktu yang lama dalam dunia kedokteran. Pengetahuan bergerak dengan cepat. Buku teks cepat ketinggalan jaman. Yang ini macet.

Dia memperkuat posisinya sebagai ilmuwan klinis dengan pekerjaan penting lainnya. Usus Ulkus Duodenum diterbitkan pada tahun 1910. Ini menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang kondisi tersebut. Hal ini membantu menjelaskan bagaimana ahli bedah memandang masalah ini selama bertahun-tahun yang akan datang.

Bukti dari Tabel Operasi

Moynihan memiliki pandangan khusus tentang bagaimana ahli bedah harus belajar. Dia tidak hanya mempercayai pemeriksaan postmortem saja. Dia percaya pada bukti dari tubuh yang hidup. Khususnya, bukti yang ditemukan di meja operasi.

Ini adalah perubahan pola pikir. Hal ini mengalihkan fokus dari apa yang terjadi setelah kematian ke apa yang terjadi selama hidup. Ini menuntut observasi waktu nyata. Untuk itu diperlukan ahli bedah untuk hadir dan terlibat dalam pasien yang masih hidup.

Dia ingin ilmu ini disebarluaskan. Dia ingin kolaborasi. Pada tahun 1913, ia mensponsori peluncuran British Journal of Surgery. Tujuannya jelas. Menyatukan ahli bedah Inggris dengan rekan-rekan internasional mereka. Buat saluran untuk bertukar informasi.

Ia juga membantu mendirikan beberapa klub dan organisasi. Kelompok-kelompok ini dirancang untuk mendorong pertukaran di antara para ahli bedah dan spesialis. Dia tahu bahwa isolasi menghambat kemajuan. Koneksi mendorongnya.

Pengakuan dan Warisan

Rekan-rekannya mengakui kontribusinya. Dia dianugerahi gelar kebangsawanan pada tahun 1912. Ini mengakui pengabdian dan keterampilannya. Tujuh belas tahun kemudian, dia diangkat menjadi gelar bangsawan. Ia menjadi Lord Moynihan pada tahun 1929.

Dia meninggal pada tahun 1936 di Carr Manor di Leeds, Yorkshire. Dia berumur 70 tahun.

Pengaruhnya tetap terlihat dalam cara kita mendiskusikan riwayat bedah. Dia mendorong komunikasi yang lebih baik. Dia menekankan bukti hidup dibandingkan analisis mati.